MAKALAH
“Relasi makna Antonimi”

Disusun
oleh:
Nama :
Muhammad Rosyidi
NPM :
11410187
Kelas : 4B
PBSI
PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2014
A. LATAR BELAKANG
Makna sebagai penghubung bahasa
dengan dunia luar, sesuai dengan kesepakatan para pemakainya sehingga dapat
saling dimengerti, dalam keseluruhanya memiliki tiga tingkat keberadanan. Pada
tingkat pertama, makna menjadi isi abstraksi dalam kegiatan bernalar secara
logis sehingga membuahkan proposisi yang benar. Tingkat kedua, makna menjadi
isi dari suatu bentuk kebahasan. Pada tingkat ketiga, makna menjadi isi
komunikasi yang mampu membuahkan informasi tertentu. Selanjut dengan
keberadanan tiga tingkatan makna diatas, Profesor Samsuri (1995) mengungkapkan
terdapatnya garis hubungan: ‘makna’=> ungkapan => ‘makna’. Apabila makna
pada tingkatan pertama dan kedua berhubungan dengan penutur, maka makna pada
tingkatan ketiga adalah makna yang hadir dalam komunikasi sesuai dengan butir
yang diperoleh penanggap.
Lebih lanjut, Wallace L. Chafe
(1973) mengungkapkan bahwa berpikir tentang bahasa, sebenarnya, sekaligus juga
telah melibatkan makna. Meskipun demikian, karena makna memiliki tiga
tingkatan, akhirnya penentuan hubungan antara makna dengan bahasa ataukah
bahasa dengan makna, ternyata banyak menunjuk kan silang pendapat. Mereka yang
menyikapi makna sebagai akar pengolahan pesan, meletakkan dan mengkaji makna
pada tingkat abstraksi dan pengolahan proposisi. Sementara mereka yang
menyikapi hubungan makna dan bahasa dalam komposit bentuk isi, berpusat pada
struktur kebahasaannya. Sedangkan mereka yang beranggapan bahwa makna pada
dasarnya baru dapat dikaji dalam peristiwa ujaran, mengkaji makna pada gejala
pengolahan dan pemahaman pesan dalam kegiatan komunikasi.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian Antonimi?
2. Perbedaan Antonimi Biner dan
Antonimi Nonbiner?
3. Penjelasan perbedaan Antonimi
Bergradasi dan Antonimi tak Bergradasi?
4. Perbedaan Antonimi Orthogonal dan
Antonimi Antipodal?
5. Pengertian Makna Antonimi
Direksional dan makna Antonimi Relasional?
C. PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Antonimi
Kata
Antonimi berasal dari kata Yuniani kuno, yaitu Onoma yang artinya “nama”, dan
Anti yang artinya “melawan”. Harfiah antonim berarti nama lain untuk benda lain
pula. Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai: Ungkapan (biasanya berupa kata,
tetapi dapat pula dalam bentuk frase atau kalimat) yang maknanya dianggap
kebalikan dari makna ungkapan lain. Misalnya dengan kata Laki-laki berantonim dengan perempuan,
mati berantonim dengan hidup, utara berantonim dengan selatan,
jauh berantonim dengan dekat,
dsb. Dilihat dari jumlah pasangan dan sifat perlawananannya, antonimi dapat
dibedakan menjadi antonimi biner dan antonomi nonbiner, antonimi bergradasi dan
antonimi tak bergradasi, antonomi orthogonal dan antipodal, antonimi
direksional dan antonomi relasional. Adapun masing-masing jenis antonomi
tersebut akan diuraikan sebagai berikut.
a.
Antonimi Biner dan Antonimi Nonbiner
Antonimi biner (binary apposition) adalah perlawanan yang
beranggotakan dua buah kata. Perlawanan antara hidup dan mati laki-laki dan perempuan, jantan dan betina adalah perlawanan biner. Kutub
perlawanan biner tidak bersifat continous.
Diantara hidup dan mati, laki-laki dan perempuan tidak memungkinkan ada kata atau anggota pasangan yang
lain. Didalam logika tradisional, perlawanan nonbiner sejajar dengan konsep
kotrakdiksi (contradictory). Kontradiksi adalah konsep perlawanan yang membagi
kesemestaan wacana menjadi dua bagian. Apabila dikatakan bukan X pasti Y.
Sebaliknya bila hal itu dikatakan Y, hal itu pasti X. Bila suatu entitas
dikatakan mati, entitas itu pasti tidak hidup. Demikian pula bila sesuatu
dikatakan laki-laki atau jantan, serta itu pasti bukan perempuan atau bukan
betina. Sehubungan dengan ini, Parker (1986: 36) mendefinisikan pasangan
perlawanan ini sebagai “pairs that exhaust all possibilities a long the scale”.
Oleh karena itulah, kalimat berikut tidak terterima dalam bahasa indonesia.
-
Hendra lebih laki-laki dibandingkan Eka.
-
Ani lebih betina daripada Tina.
Apabila di dalam bahasa Indonesia ditemukan pemakaian lebih
hidup, setengah mati, lebih jantan, dsb. Hal ini bersangkutan dengan makna
sekunder bukan makna primer, seperti terlihat dalam kalimat berikut:
-
Pukulan kirinya kini lebih hidup
-
Hadapilah dengan sikap yang lebih jantan
-
Ani bekerja setengah mati
Lyon (1868: 460) menyebut antonimi biner dengan antonimi
komplementer karena sifat-sifatnya saling melengkapi.
Antonimi nonbiner adalah antonimi yang anggota-anggota
pasangannya lebih dari dua. Antara dingin dan panas sepanjang skalanya masih
memungkinkan diberi anggota-anggota lain, seperti hangat dan sejuk sehingga
didapatkan gambaran skala seperti berikut:
Panas
hangat sejuk dingin
Berbeda dengan antonimi biner , antonimi nonbiner,
pengingkaran salah satu anggotanya tidak mengimplikasikan secara mutlak
anggota-anggota pasangannya yang lain. Kalau dikatakan bahwa “air ini tidak
panas” berarti “air itu dingin”. Sebaliknya kalau dikatakan “air itu tidak
dingin” tidak harus berarti “air itu panas”, dsb. Di dalam logika tradisional,
pertentangan ini disebut kontras (contrary). Berbeda dengan antonimi biner,
rentang kutub oposisi nonbiner bersifat continous. Di antara dahulu dan sekarang
ada sejumlah kata yang dapat disisipkan, seperti barusan, kemarin, kemarin
dulu, tempo hari, dsb.
Bila nama-nama bulan dianggap sebagai pasangan antonim maka
oposisinya bersifat nonbiner. Di antara rentang kutub januari dan desember
terdapat anggota-anggota yang lain, yakni Februari, Maret, April, Mei, Juni,
Juli, Agustus, September, Oktober, dan November. Bila nama-nama istilah
kekerabatan yang dipermasalahkan, oposisinya juga bersifat nonbiner karena
kalimat itu bukan kakek saya tidak ada keharusan bahwa itu nenek saya, tetapi
mungkin pula ibu, ayah, adik, kakak saya, dsb. Anggota pasangannya nama bulan
(Januari, Februari, Maret, dst.) dan nama hari (Senin, Selasa, Rabu, Kamis,
dst.), sifat berdaur (cylic), sedangkan antonimi kata-kata kekerabatan, sifatnya
tak berdaur (noncylic).
b.
Antonimi Bergradasi dan Antonimi Tak
Bergradasi
Antonimi bergradasi adalah perlawanan yang berjenjang atau
bertingkat (gradable opposite) sehubungan dengan sifat-sifat relatif makna
kata-kata yang berlawanan itu. Perlawanan kata panas dan dingin, tinggi dan
rendah, panjang dan pendek, dsb. Adalah perlawanan yang bergradasi sehubungan
dengan mungkinnya orang mengatakan lebih panas, lebih dingin, lebih tinggi,
lebih rendah, lebih panjang dan lebih pendek. Untuk itu, dapat diperhatikan
kalimat berikut:
·
Air ini lebih (a.panas /b.dingin) daripada yang ada di dalam
kendi itu
·
Tembok ini lebih (a.tinggi/b.rendah) dibandingkan dengan
tembok rumah saya.
·
Jalan ini lebih (a.Lebar/b.sempit) daripada jalan di kampung
saya.
Menurut
Palmer (1982: 94) salah satu anggota pasangan antonimi bergradasi ini bersifat
tertanda (marked) dan yang lainnya bersifat tak tertanda (unmarked). Anggota
pasangan tak teertanda dapat digunakan untuk menanyakan atau menggambarkan
tingkat kualitas suatu benda. Akan tetapi, anggota pasangan tak tertanda tidak
dapat digunakan untuk keperluan ini. Tinggi, panjang dan lebar adalah anggota
pasangan tak tertanda karena kata-kata ini dapat digunakan untuk menanyakan
tingkat kualitas suatu benda, seperti “berapa tinggi orang itu?”, “Berapa
panjang gang itu?” dan “Berapa lebar kamar tamumu?” sebaliknya rendah, pendek
dan sempit adalah anggota pasangan
tertanda karena tidak lazim orang menanyakan keadaan suatu benda dengan kalimat
tanya, “Berapa rendah orang itu ?, ”Berapa pendek gang itu?, dan Berapa sempit
kamar tamumu?.
Antonimi yaang tak bergradasi adalah
perlawanan tak bertingkat atau tak berjenjang (ungradable opposite). Kata nenek
dan kakek, ayah dan ibu, membeli dan menjual, hidup dan mati, laki-laki dan
perempuan, dsb. Adalah tipe antonimi tak bergradasi karena relasinya tidak
bersifat relatif. Dari pasangan-pasangan ini tidak diperoleh bentuk “lebih
nenek, lebih kakek, lebih ibu, lebih membeli, lebih menjual, lebih hidup, lebih
mati, dsb.
c.
Antonimi Orthogonal dan Antonimi
Antipodal
Antonimi Orthogonal adalah perlawanan yang oposisinya tidak
bersifat diametrik. Kata Utara berantonim secara orthogonal (nondiametris)
dengan semua arah mata angin lainnya. Kecuali dengan Selatan, yakni Timur
Laut, Timur, Tenggara, Barat Daya, Barat, dan Barat Laut. Demikian pula timur
laut berantonim secara orthogonal dengan semua arah mata angin lainnya kecuali dengan
barat daya.
Antonimi antipodal adalah perlawanan makna yang oposisinya
bersifat diametrik. Kata Utara berantonimi antipodal dengan Selatan, Timur Laut
dengan Barat Daya, Timur dengan Barat, dan Tenggara dengan Barat Laut.
d.
Antonim Direksional
Antonimi Direksional adalah perlawanan makna yang oposisinya
ditentukan berdasarkan gerak menjauhi dengan mendekati suatu tempat. Kata
pulang dan pergi, ke sana dan ke mari, serta datang dan pergi masing-masing
adalah pasangan antonimi yang bersifat direksional. Pulang dan ke mari, dan
datang adalah gerak mendekati pembicara, sedangkan pergi, dan ke sana adalah
gerak menjauhi tempat pembicara. Dalam bahasa Inggris, pasangan kata go dan
back, dan take, dan bring termasuk perlawanan direksional. Go dan take berhubungan
dengan gerak menjahui tempat pembicara, sedangkan back dan bring berhubungan
dengan gerak mendekati pembicara
e.
Antonimi Relasional
Antonimi relasional adalah perlawanan yang oposisinya
bersifat kebalikan atau kosok balen (converrness) misalnya suami dan istri,
membeli dan menjual, memberi dan menerima, dsb. Bila dikatakan Jono suami Inen,
Ati membeli dari Anton, Anik memberi Ratno, dsb. Kalimat ini membawa
konsekuensi bahwa Inen adalah istri Jono, Anton menjual kepada Ati, Retno
menerima dari Anik. Contoh-contoh yamg lain misalnya, orang tua dan anak, adik
dan kakak, di atas dengan di bawah, di muka dan di belakang, Timur dan Barat,
Utara dan Selatan, dsb.
Beberapa istilah kekerabatan masih membutuhkan tambahan
komponen semantik jenis kelamin (sex) di dalam membentuk oposisi relasional,
seperti ayah dan anak, ibu dan anak, kakek dan cucu, paman dan kemenakan, bibi
dan kemenakan. Kalau dikatakan Anton adalah anak saya, tidaklah secara pasti
membawa konsekuensi bahwa saya adalah ayah Anton, tetapi mungkin pula saya adalah
ibu Anton. Kalau dikatakan bahwa Anton kemenakan saya, juga tidak membawa
konsekuensi mutlak bahwa saya adalah paman Anton, mungkin pula saya adalah
paman Anton, mungkin pula saya adalah bibi Anton.
Oposisi relasional antara membeli dan menjual, suami dan
istri, memberi dan menerima, anak dan orang tua, Utara dan Selatan, depan
dengan belakang, dsb. Bersifat spontan. Hal ini berbeda dengan relasi bertanya
dan menjawab, menawarkan dab menerima, menawarkan dan menolak, spontan “Amir mejual
kepada ayah; bila dikatakan “dia orang itu say”, maka secara otomatis “saya
adalah anaknya, dst. Akan tetapi bila dikatakan “saya bertanya kepada ali”
tidak secara otomatis “Ali menjawab pertanyaan saya”; bila dikatakan
“pemerintah menawarkan beasiswa itu kepada saya”, tidak secara otomatis “saya
menerima beasiswa dari pemerintah itu”, antara bertanya dan menjawab,
menawarkan dan menerima, serta menawarkan dan menolak tidak terjadi secara
spontan, tetapi hubungan yang memiliki tenggang waktu. Menurut Palmer (1984:
99) hubungan semacam ini disebut hubungan temporal (temporal Relationship).
D. PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan
Harfiah antonim berarti nama lain untuk benda lain pula.
Ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat pula dalam bentuk frase atau
kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain. Misalnya
dengan kata Laki-laki berantonim
dengan perempuan, mati berantonim dengan hidup, utara berantonim dengan selatan,
jauh berantonim dengan dekat,
dsb. Dilihat dari jumlah pasangan dan sifat perlawananannya, antonimi dapat
dibedakan menjadi antonimi biner dan antonomi nonbiner, antonimi bergradasi dan
antonimi tak bergradasi, antonomi orthogonal dan antipodal, antonimi
direksional dan antonomi relasional.
DAFTAR
PUSTAKA
Allan, Keith. 1986. Linguistik Meaning, Vol I. London: Routledge
& Kegan Paul.
Badudu, J.S. 1980. Membina Bahasa Indonesia Baku, Seri 2, Cetakan
I. Bandung:
Pustaka
Prima.
Blair, David. 1980. The Pocket Macquary Dictionary. The Yacaranda
Press
Bloomfield, Leonard. 19330. Language. New York: Henri Holt &
Company.
Keraf, Gorys. 1991 Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia, Jakarta:
Grsindo.
Koendjaraningrat. 1980. “Pengembangan
Bahasa Nasional sebagai Unsur Kebudayaan Nasional”, dalam Amran Halim (Ed), Politik Bahasa Nasional 1. Jakarta:
Balai Pustaka.
Kridaklaksana, Harimurti. 1993.
Kamus Linguistik, Edisi Ke-3 Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Palmer, F.R. 1984. Semantics. Cambridge University Press.
Lyons, Jhon. 1978. Semantics, Vol I. London: Cambridge University
Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar