Kamis, 11 Desember 2014

SEMANGAT CINTA TANAH AIR DALAM NASKAH FILM TANAH SURGA KATANYA KARYA HERWIN NOVIANTO SEBUAH REPRESENTASI NASIONALISME



SEMANGAT CINTA TANAH AIR
DALAM NASKAH FILM TANAH SURGA KATANYA KARYA HERWIN NOVIANTO
SEBUAH REPRESENTASI NASIONALISME

Muhammad Rosyidi
Universitas PGRI Semarang

ABSTRAK
Tulisan ini berjudul “Semangat Cinta Tanah Air dalam Naskah Film Tanah Surga Katanya Karya Herwin Novianto Sebuah Representasi Nasionalisme”. Adapun permasalahannya adalah bagaimana wujud Semangat Cinta Tanah Air dalam Representasi Nasionalisme melalui tokoh-tokohnya dalam Naskah Film Tanah Surga Katanya Karya Herwin Novianto.
Tulisan ini merupakan tulisan berdasarkan penelitian kualitatif. Adapun pendekatan yang dipakai adalah pendekatan sosiologi sastra. Dari hasil analisis ditemukan bahwa representasi nasionalisme terungkap melalui seorang tokoh yang mencintai bangsanya, tanah air Indonesia. Tokoh Kakek Hasyim sebagai bekas seorang pejuang konfrontasi perbatasan Malaysia-Indonesia yang selalu menanamkan rasa nasionalisme kepada cucu-cucunya. Salman dan Salina merupakan cucu Kakek Hasyim, Salman seorang siswa kelas 4 dan Salina kelas 3 mereka merupakan siswa tercerdas di sekolahnya, polos, memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, sangat menyayangi kakeknya, memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Representasi film “Tanah Surga Katanya” adalah film menggambarkan relevan dengan realitas kehidupan yang terjadi di daerah perbatasan. Secara denotasi dalam film “Tanah Surga Katanya” adalah keadaan dimana masyarakat daerah perbatasan tetap berjuang meskipun keterbelakangan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan secara konotasi dalam film “Tanah Surga Katanya” ditemukan bahwa pemahaman nasionalisme masih diartikan secara dangkal. Nasionalisme masih terbatas pada bendera Merah Putih, lagu kebangsaan, Garuda Pancasila, akan tetapi nasionalisme bukan hanya dilihat dari pakaian yang kita pakai, lagu kebangsaan yang kita nyayikan setiap saat, atau selalu mengibarkan bendera merah putih, akan tetapi nasionalisme adalah sikap terhadap bangsa ini. Sikap mencintai bangsa ini dengan tindakan positif kita. Salah satunya dengan memberikan prestasi yang terbaik untuk bangsa dan negara ini.

Kata-kata Kunci: Cinta, Tanah Air, Nasionalisme.

I.     PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki banyak pulau dengan jumlah penduduk yang sangat banyak yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Keadaan Indonesia memang belum sebaik negara lain seperti negara tetangga Malaysia ataupun Singapore, sehingga banyaknya hal modern yang ada di Indonesia ini datang dari negara lain tanpa filter yang baik, sehingga mempengaruhi pandangan dan pemikiran dari individu masyarakat Indonesia yang dapat mengikis rasa cinta tanah air atau representasi nasionalisme dalam dirinya. Adapun yang dimaksud dengan representasi nasionalisme adalah suatu tindakan menghadirkan atau merepresentasikan rasa cinta tanah air (nasionalisme) baik melalui orang, peristiwa, maupun objek lewat sesuatu hal di luar dirinya, biasanya berupa tanda atau simbol (Ilahi, 2012: 43). Nasionalisme dapat disampaikan melalui karya sastra. Oleh karena itu, sastra dapat memberikan sumbangan yang besar dan memainkan peranan penting dalam usaha pembangunan suatu bangsa (Abdullah, 1995: 15)
Sebagai hasil kreativitas pengarang, karya sastra tidak akan terlepas dari masyarakat, sebagaimana pengarang yang menjadi bagian dari masyarakat. Karya sastra bukan hanya sekedar permainan imajinasi, tetapi merupakan rekaman tata cara masyarakat sezamannya sebagai perwujudan dari niat tertentu. Ada berbagai rasa cinta tanah air yang dapat pembaca nikmati melalui karya sastra khususnya karya sastra film. Dengan demikian, melalui karya sastra film pembaca dapat memperoleh nilai-nilai nasionalisme berupa pemahaman rasa cinta tanah air yang diungkapkan melalui tokoh atau aktor film.
Representasi nasionalisme film “Tanah Surga Katanya” karya Herwin Novianto adalah film yang menggambarkan relevan dengan realitas kehidupan yang terjadi di daerah perbatasan. Secara denotasi dalam film “Tanah Surga Katanya” adalah keadaan dimana masyarakat daerah perbatasan tetap berjuang meskipun keterbelakangan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan secara konotasi dalam film “Tanah Surga Katanya” ditemukan bahwa pemahaman nasionalisme masih diartikan secara dangkal. Dari uraian di atas yang menjadi masalah dalam tulisan ini yaitu bagaimanakah wujud rasa cinta tanah air dalam representasi nasionalisme melalui tokoh dalam film Tanah Surga Katanya karya Herwin Novianto?

II.  PEMBAHASAN
Pada uraian di atas diungkapkan bahwa melalui karya sastra film penonton atau penikmat sastra dapat memperoleh nilai-nilai nasionalisme berupa pemahaman rasa cinta tanah air. Nasionalisme dalam arti luas adalah paham kebangsaan yang meletakkan kesetiaan tertinggi individu terhadap bangsa dan tanah airnya dengan meman dang bangsanya itu merupakan bagian dari bagian lain di dunia (Kusdiono dalam Ilahi, 2012: 73).
Dalam nasionalisme mempunyai prinsip-orinsip. Menurut Heryanto (1996: 23) bahwa nasionalisme dalam arti luas mengandung prinsip-prinsip yaitu: 1) Prinsip kebersamaan menuntut setiap warga negara untuk menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan, 2) Prinsip persatuan dan kesatuan menuntut setiap warga negara harus mampu mengesampingkan pribadi atau golongan yang dapat menimbulkan perpecahan dan anarkis (merusak), untuk menegakkan prinsip persatuan dan kesatuan setiap warga negara harus mampu mengedepankan sikap: kesetiakawan sosial, peduli tehadap sesama, solidarias dan berkeadilan sosial, 3) Prinsip demokrasi memandang: bahwa setiap warga negara mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, karena hakikanya kebangsaan adalah adanya tekad unuk hidup bersama mengutamakan kepentingan bangsa dan negara yang tumbuh dan berkembang dari bawah untuk bersedia hidup sebagai bangsa yang bebas, merdeka, berdaulat, adil dan makmur.
Lebih lanjut Sujana (dalam Ilahi, 2012: 2) memandang nasionalisme merupakan faham dan semangat kecintaan serta loyalitas suatu masyarakat, bangsa, dan negara terhadap masyarakat, bangsa, dan negaranya sendiri. Dengan kata lain, nasionalisme merupakan kebanggaan serta loyalitas suatu masyarakat dengan sejarah penderitaan yang sama karena menjadi bagian dari suatu bangsa.
Secara etimologi, nasionalisme berasal dari kata “nasional” dan “isme” yaitu paham kebangsaan yang mengandung makna: kesadaran dan semangat cinta tanah air, memiliki kebanggaan sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan bangsa, memiliki rasa solidaritas terhadap musibah dan kekurangberuntungan saudara setanah air, sebangsa dan senegara, persatuan dan kesatuan (Heryanto, 1996: 4-5). Pada prinsipnya nasionalisme adalah pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila (Pigay, 2000: 33).
Dari uraian pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa nasionalisme merupakan paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan secara bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa yang disebut semangat kebangsaan.
Cinta tanah air dapat ditimbulkan oleh sebuah rasa nasionalisme yang hadir dalam diri sekelompok orang terhadap bangsanya. Hal ini diperkuat dengan pendapat Ritter (dalam Abdullah, 1994: 77) Nasionalisme pada mulanya terkait dengan rasa cinta sekelompok orang pada bangsa, bahasa dan daerah asal usul semula.
Untuk menganalisis film Tanah Surga Katanya ini digunakan pendekatan sosiologi sastra. Adapun pendekatan sosiologi sastra adalah telaah yang subjektif dan ilmiah tentang diri seseorang dalam masyarakat, telaah tentang lembaga, dan proses sosial. (Damono, 2003: 10). Ini berarti rasa nasionalisme itu ada dari pengalaman diri seseorang yang berupa rasa cinta terhadap tanah air. Adapun diri seseorang yang mengalami rasa nasionalisme dimaksudkan adalah tokoh dalam film Tanah Surga Katanya.
Kakek Hasyim merupakan tokoh utama sebagai bekas pejuang sukarelawan Konfrontasi perbatasan ketika masa perang Indonesia-Malaysia tahun 1965 yang memiliki pendirian kuat, cinta mati kepada bangsa Indonesia.
Haris merupakan anak Kakek Hasyim, Haris seorang duda yang memutuskan untuk menikahi wanita Malaysia untuk mempermudahnya menetap di Malaysia. Haris bermaksud mengajak ayah dan kedua anaknya ikut pindah ke Malaysia, walaupun di tawari berbagai fasilitas yang tidak bisa didapatkan di daerahnya namun tetap ditolak oleh Hasyim karena bagi dirinya kesetiaan pada bangsa adalah harga mati.
Salman dan Salina merupakan cucu Kakek Hasyim, Salman seorang siswa kelas 4 dan Salina kelas 3 mereka merupakan siswa tercerdas di sekolahnya, polos, memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, sangat menyayangi kakeknya, memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.
Sebagai seorang sukarelawan bekas pejuang konfrontasi perbatasan, Kakek Hasyim menanamkan rasa nasionalismenya kepada Salman dalam melawan para pasukan gurka yang datang dari inggris untuk membantu Malaysia dalam melawan para pejuang Indonesia dari suku Sasak di Kalimantan Barat. Seperti kutipan adegan percakapan di bawah ini:
Adegan 1
Hasyim: “ketika Kakek berada diperbatasan, tiba-tiba dari sana muncullah pasukan gurka yang datang dari Inggris membela Malaysia, nah Kakek dan sukarelawan lainnya menyelinaplah pulang susup sasap sembunyi-sembunyi. Para sukarelawan bertempur diperbatasan tartartar tartartartartartaratar!! pasukan gurka tu lari tunggang-langgang lintang pulang balik kampung.”
Salman: “oh, pasukan Inggris te, mukanya seram-seram ya Kek ?”
Hasyim:” Salman, pasukan gurka itu orang dari Nepal atau India, yang mukanya hitam dan kumisnya tebal.”
(Novianto, 2012)
Kutipan di atas menunjukkan adanya rasa nasionalisme Hasyim yang bekas sukarelawan itu tak pernah surut jiwa nasionalismenya. Hasyim berusaha menularkan jiwa nasionalismenya itu kepada cucunya melalui cerita-cerita heroik di era Konfrontasi. Namun, jiwa nasionalisme Hasyim ditentang oleh kenyataan. Anaknya, Haris lebih memilih bekerja dan menetap di Malaysia.
Komentar Haris cukup menggelitik. Ketika bapaknya, Hasyim, menyatakan Indonesia lebih makmur dari Malaysia, Haris membantah, “Jakarta yang makmur. Bukan di sini (pelosok Kalimantan).” Kehidupan yang ditawarkan di Malaysia yang jauh lebih baik mengakibatkan orang-orang di perbatasan rela melepas status WNI-nya. Namun, sesungguhnya masalah itu dapat ditanggulangi jika pemerintah Indonesia memberikan perhatian secara khusus untuk daerah perbatasan. Fenomena ini dapat dilihat pada adegan Haris membujuk Hasyim untuk pindah ke Malaysia.
Adegan 2
Haris       :  Malaysia tu negeri yang makmur, Yah.
Hasyim    :  Negara kita lebih makmur, Haris.
Haris       :  Jakarta yang makmur, bukan di sini. Kita ni di pelosok Kalimantan. Siapa yang peduli?
Hasyim    :  Haris, mengatur negeri ini tidaklah mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tahu kau?
Haris       :  Tapi apa yang Ayah harapkan dari pemerintah? Mereka tidak pernah memberikan apa-apa untuk Ayah yang pernah berjuang di perbatasan.
Hasyim    : Aku mengabdi bukan untuk pemerintah. Tapi untuk negeri ini, bangsaku sendiri.
Haris       :  Sekali lagi, Yah. Aku cuma ingin menyejahterakan ayah, membahagiakan anak-anak. Dan aku…… aku sudah menikah dengan perempuan Malaysia, Yah.
Hasyim    :  Apa maksudmu, hah?!
Haris       :  Yah, supaya segala sesuatunya lebih mudah, saya harus menjadi warga negara sana, Yah. Yah, di sana ayah akan mendapatkan perawatan kesehatan yang lebih baik, anak-anak bisa bersekolah lebih tinggi, dan kita bisa tinggal di tempat yang lebih layak. Tak macam di sini, Yah!
            (Novianto, 2012).
Pada kutipan di atas nampak jelas bahwa, kebijakan sentralisasi politik dan pembangunan yang pernah diterapkan oleh pemerintahan Orde Baru dahulu memang memunculkan resistensi dari daerah-daerah. Sentralisasi pembangunan-pembangunan baik itu infrastruktur, pendidikan, dan sebagainya di pulau Jawa, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, menimbulkan kesenjangan yang sangat timpang dengan daerah-daerah non-Jawa, terutama di daerah-daerah perbatasan. Walaupun pemerintahan Orde Baru sudah berakhir dan digantikan dengan pemerintahan era reformasi yang salah satu tuntutannya adalah kebijakan desentralisasi yang telah diwujudkan dalam bentuk otonomi daerah, namun masalah kesenjangan di daerah-daerah terpencil belum juga mendapatkan perhatian dari pemerintahan pusat dan daerah seperti dalam film ini. Padahal masalah pendidikan dan kesehatan secara terang-terangan sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Sementara itu, pengasingan terjadi pada lainnya, yaitu bendera merah putih dan mata uang rupiah. Saat Bu Astuti menyuruh anak-anak untuk menunjukkan tugas membuat gambar bendera merah putih yang didapat olehnya adalah gambar-gambar berwarna merah dan putih yang bentuk dan komposisinya bukan berupa bendera Merah-Putih Indonesia. Ada yang berbentuk segitiga, layang-layang, garis belang-belang, dan lain sebagainya. Hanya Salina yang menggambar dengan benar. Itu pun ia ketahui dari kakeknya yang mantan pejuang perbatasan.
Tidak hanya sampai di situ, di film ini terdapat adegan lain yang lebih ironis, yaitu ketika pedagang Indonesia yang berdagang di Malaysia memakai bendera merah-putih sebagai kain pembungkus dagangannya. Dari sini dapat dilihat bahwa lambang negara yang satu ini tidak pernah dikenal oleh orang Indonesia sendiri.
Adegan 3
Salman     :  Pak!
Pedagang  :  Apa?
Salman     :  Itu merah putih.
Pedagang  :  Ku tahu. Ini warnanya merah, ini warna putih, ini kuning, ini hijau, ini warna cokelat.
Salman     :  Merah putih itu bendera Indonesia, Pak.
Pedagang  :  Ini kain kan kain pembungkus dagangan aku.
Salman     :  Ini bendera pusaka.
Pedagang  :  (sambil menunjuk sebuah Mandau  milikny) Ini Mandau  pusaka kakek aku. Pergi no!
(Novianto, 2012).
Pada kutipan ketiga di atas, rasa nasionalisme Salman akan kecintaannya terhadap bangsa Indonesia sangat tinggi. Salman memberanikan diri untuk menegur pedagang Malaysia yang telah meremehkan bendera Indonesia untuk digunakan sebagai dasaran tempat berjualan.
Terkait dengan judul “Tanah Surga Katanya”, dalam film ini dikisahkan suatu hari ada pejabat provinsi datang ke sekolah Salman. Murid-murid menyambutnya dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan tarian khas Kalimantan Barat. Adapun sajian lain yang ditampilkan untuk para pejabat adalah deklamasi puisi karangan Salman oleh dirinya sendiri. Puisi itu merupakan puisi satir dengan judul Tanah Surga gubahan dari lirik lagu Kolam Susu yang sering didengar dan dinyanyikan anak-anak di dusun itu. Berikut lirik puisi Tanah Surga yang dibawakan oleh Salman.
Tanah Surga
Bukan lautan hanya kolam susu, katanya...
tapi kata kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu
Kayu dan jala cukup untuk menghidupimu, katanya...
tapi kata kakekku, ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara
Tiada badai tiada topan kau temui, katanya ...
tapi kenapa ayahku  tertiup angin ke Malaysia
Ikan dan udang menghampiri dirimu, katanya...
tapi kata kakek, awas! Ada udang di balik batu!
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat dan batu jadi tanaman, katanya...
tapi kata dokter Intel belum semua rakyatnya sejahtera,
banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri
Di akhir cerita, kakek Salman, Hasyim yang merupakan veteran pejuang perbatasan meninggal karena sakit jantung yang dideritanya. Selama ini, ia tidak mengobati penyakitnya. Alasan biaya menjadi alasan klasik dan lumrah bagi veteran apalgi yang tinggal di daerah perbatasan. Jangankan untuk dirawat di rumah sakit, membeli obat-obatannya pun ia tak mampu. Biaya perjalanan menggunakan sampan ke kota pulang pergi sudah menghabiskan 400 ringgit. Uang sebanyak itu memang tidak mustahil diperoleh, namun alangkah lebih berartinya bila uang sebanyak itu dipakai untuk keperluan lain daripada dihabiskan hanya untuk biaya perjalanan mengobati penyakitnya. Ia berpikir, kebutuhan cucu-cucunya jauh lebih penting daripada pengobatan penyakitnya itu.
Adegan 4
Hasyim  : Salman…
Salman   : Iya, Kek…
Hasyim  : Indonesia tanah surga. Apa pun yang terjadi pada dirimu, jangan sampai kehilangan cintamu pada negeri ini. Genggam erat cita-citamu, katakan kepada dunia dengan bangga “kami bangsa Indonesia….” Laa illaaha illallaah…..
Salman   : Kakek….!!
(Novianto, 2012).
Dari kutipan di atas Sebelum meninggal, Hasyim berpesan kepada cucunya, Salman, agar tetap mencintai bangsanya. Sementara itu, di lain tempat, Haris sedang ber-euforia bersama warga Malaysia atas kemenangan Malaysia pada pertandingan sepakbola Malaysia melawan Indonesia. Dengan bangganya ia mengibarkan spanduk Malaysia. Dengan sepenuh hati ia mendukung Malaysia untuk menjadi jawaranya. Hilangnya rasa memiliki Indonesia, bergeseranya identitas diri menjadi orang Malaysia, telah terpatri dalam diri Haris.
Demikian digambarkan adanya perbedaan ideologi dari generasi satu ke generasi berikutnya, yaitu generasi nasionalisme Hasyim dengan generasi matrealistis Haris. Proses sosial yang terjadi dalam masyarakat perbatasan di mana mereka lebih sering berinteraksi dengan bangsa lain, ditambah dengan tidak adanya sosialisasi akan makna dan nilai nasionalisme mengakibatkan hilangnya rasa memiliki dan rasa cinta tanah air masyarakat tersebut.
Fenomena-fenomena yang digambarkan di atas merefleksikan bagaimana sebuah masyarakat membentuk pola dan mengorganisasikan kehidupan sosial. Identitas sosial mereka mengalami pergeseran, yang mulanya mengaku orang Indonesia kemudian setelah mereka merasa tidak mendapat perhatian oleh pemerintah Indonesia dan merasa lebih difasilitasi oleh negara Malaysia, mereka pun berusaha untuk menjadi warga negara Malaysia. Salah satu upaya yang mereka lakukan adalah menikah dengan orang Malaysia dan bertempat tinggal di sana. Entah ada berapa puluh atau bahkan ratus orang yang telah mengalami pergeseran identitas itu, berpindah kewarganegaran dan domisili, semuanya tidak pernah tercatat dalam administrasi pemerintahan Indonesia. Nasionalisme warga negara Indonesia di perbatasan seolah tergadai karena tuntutan ekonomi. Tidak ada yang mensosialisasikan nasionalisme, sementara kebutuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terus meningkat. Pemerintah Indonesia juga tidak pernah melakukan usaha prefentif maupun represif untuk para WNI yang berpindah kewarganegaraan dan domisili.
Film “Tanah Surga... Katanya” hanyalah contoh kecil film yang kental dengan teori sosiologi. Hasyim yang berusaha tetap mempertahankan nasionalismenya dalam gencarnya  perubahan pola pikir dan hidup masyarakat daerah perbatasan untuk lebih memilih Malaysia sebagai tempat berlabuh, ia tularkan kepada cucunya, Salman. Nasionalisme itu ternyata dapat diterima dengan baik olehnya, meski ayahnya telah berpindah kewarganegaraan dan domisili dengan kehidupan yang lebih layak. Ia bertahan dengan nasionalisme yang sarat keterbatasan.
Seandainya jika kita yang mengalami kenyataan seperti di atas, apakah kita akan tetap mempertahankan nasionalisme seperti Hasyim? Atau memilih jalan realistis mendapat keuntungan materi yang lebih banyak dengan mempertaruhkan nasionalisme kita seperti Haris.
III.   SIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Representasi nasionalisme dalam film “Tanah Surga Katanya” kebanyakan komunikasi yang dilakukan berupa ungkapan-ungkapan jiwa tokoh. Nasionalisme hanya dihubungkan dengan sejarah, lagu kebangsaan Indonesia Raya, Garuda Pancasila, serta kebudayaan. Representasi Film “Tanah Surga Katanya” menggambarkan relevan dengan realitas kehidupan yang terjadi di daerah perbatasan. Secara denotasi dalam film “Tanah Surga Katanya” adalah keadaan dimana masyarakat daerah perbatasan tetap berjuang mencintai negerinya meskipun keterbelakangan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan secara konotasi dalam film “Tanah Surga Katanya” ditemukan bahwa pemahaman nasionalisme masih diartikan secara dangkal. Nasionalisme masih terbatas pada bendera Merah Putih, lagu kebangsaan, Garuda Pancasila. Ada hal yang terpenting merealisasikan kenasionalismean itu dalam kehidupan kita di kehidupan nyata. Bangsa ini lebih membutuhkan manusia-manusia yang bisa memperjuangkan harga diri bangsa ini dengan sesuatu yang lebih bermakna. Nasionalisme tidak hanya simbol. Nasionalisme adalah nyata dengan sikap kita.
IV.   DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik.. (1994). Nasionalisme Suatu Bangsa, Bandung, Pemuda dan Perubahan Sosial. Jakarta: LP3G.
Damono, Sapardi Djoko. 2003. Sosiologi Sastra. Semarang: Magister Ilmu Susastra Undip.
Heryanto, Ariel. 1996. Nasionalisme Refleksi Kritis Kaum Ilmuwan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ilahi, Muhammad Takdir. 2012. Nasionalisme dalam Bingkai Pluralitas Bangsa: Paradigma Pembangunan dan Kemandirian Bangsa. Ar-Ruzz Media. Yogyakarta.
Novianto, Herwin. 2012. Film Tanah Surga Katanya. Jakarta: PT.Demigisela Cita Sinema & PT. Gatot Brajamusti Films
Pigay, Decki Natalis. (2000). Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik Politik di Papua. Penerbit PT. Sinar Harapan. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar