SEMANGAT CINTA TANAH AIR
DALAM
NASKAH FILM TANAH SURGA KATANYA KARYA HERWIN
NOVIANTO
SEBUAH REPRESENTASI NASIONALISME
Muhammad Rosyidi
Universitas PGRI Semarang
ABSTRAK
Tulisan
ini berjudul “Semangat Cinta Tanah Air dalam Naskah Film Tanah Surga
Katanya Karya Herwin
Novianto
Sebuah
Representasi Nasionalisme”. Adapun permasalahannya adalah bagaimana wujud Semangat
Cinta Tanah Air dalam Representasi Nasionalisme melalui tokoh-tokohnya dalam
Naskah Film Tanah Surga Katanya Karya Herwin Novianto.
Tulisan ini merupakan tulisan
berdasarkan penelitian kualitatif. Adapun pendekatan yang dipakai adalah
pendekatan sosiologi sastra. Dari hasil analisis ditemukan bahwa representasi
nasionalisme terungkap melalui seorang tokoh yang mencintai bangsanya, tanah air
Indonesia. Tokoh Kakek Hasyim sebagai bekas seorang pejuang konfrontasi
perbatasan Malaysia-Indonesia yang selalu menanamkan rasa nasionalisme kepada
cucu-cucunya. Salman dan
Salina merupakan cucu Kakek Hasyim, Salman seorang siswa kelas 4 dan Salina kelas 3
mereka merupakan siswa tercerdas di sekolahnya, polos, memiliki rasa ingin tahu
yang sangat tinggi, sangat menyayangi kakeknya, memiliki rasa nasionalisme yang
tinggi. Representasi film “Tanah Surga Katanya” adalah film
menggambarkan relevan dengan realitas kehidupan yang terjadi di daerah
perbatasan. Secara denotasi dalam film “Tanah Surga Katanya” adalah
keadaan dimana masyarakat daerah perbatasan tetap berjuang meskipun
keterbelakangan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan secara
konotasi dalam film “Tanah Surga Katanya” ditemukan bahwa pemahaman
nasionalisme masih diartikan secara dangkal. Nasionalisme masih terbatas pada
bendera Merah Putih, lagu kebangsaan, Garuda Pancasila, akan tetapi
nasionalisme bukan hanya dilihat dari pakaian yang kita pakai, lagu kebangsaan
yang kita nyayikan setiap saat, atau selalu mengibarkan bendera merah putih,
akan tetapi nasionalisme adalah sikap terhadap bangsa ini. Sikap mencintai
bangsa ini dengan tindakan positif kita. Salah satunya dengan memberikan
prestasi yang terbaik untuk bangsa dan negara ini.
Kata-kata
Kunci: Cinta, Tanah Air, Nasionalisme.
I. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara
berkembang yang memiliki banyak pulau dengan jumlah penduduk yang sangat banyak
yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Keadaan Indonesia memang belum
sebaik negara lain seperti negara tetangga Malaysia ataupun Singapore, sehingga
banyaknya hal modern yang ada di Indonesia ini datang dari negara lain tanpa filter
yang baik, sehingga mempengaruhi pandangan dan pemikiran dari individu
masyarakat Indonesia yang dapat mengikis rasa cinta tanah air atau representasi
nasionalisme dalam dirinya. Adapun yang dimaksud dengan representasi
nasionalisme adalah suatu tindakan menghadirkan atau
merepresentasikan rasa cinta tanah air (nasionalisme) baik melalui orang,
peristiwa, maupun objek lewat sesuatu hal di luar dirinya, biasanya berupa
tanda atau simbol (Ilahi, 2012: 43). Nasionalisme dapat disampaikan melalui
karya sastra. Oleh karena itu, sastra dapat memberikan sumbangan yang
besar dan memainkan peranan penting dalam
usaha pembangunan suatu bangsa (Abdullah, 1995: 15)
Sebagai hasil kreativitas pengarang, karya sastra tidak akan
terlepas dari masyarakat, sebagaimana pengarang yang menjadi bagian dari
masyarakat. Karya sastra
bukan hanya sekedar permainan imajinasi, tetapi merupakan rekaman tata cara
masyarakat sezamannya sebagai perwujudan dari niat tertentu. Ada berbagai rasa cinta
tanah air yang dapat pembaca nikmati melalui karya sastra khususnya karya
sastra film. Dengan demikian,
melalui karya sastra film pembaca dapat memperoleh nilai-nilai nasionalisme
berupa pemahaman rasa cinta tanah air yang diungkapkan melalui tokoh atau aktor
film.
Representasi nasionalisme film “Tanah Surga Katanya”
karya Herwin Novianto adalah film yang menggambarkan relevan dengan realitas
kehidupan yang terjadi di daerah perbatasan. Secara denotasi dalam film “Tanah
Surga Katanya” adalah keadaan dimana masyarakat daerah perbatasan tetap
berjuang meskipun keterbelakangan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
Sedangkan secara konotasi dalam film “Tanah Surga Katanya” ditemukan
bahwa pemahaman nasionalisme masih diartikan secara dangkal. Dari uraian di
atas yang menjadi masalah dalam tulisan ini yaitu bagaimanakah wujud rasa cinta
tanah air dalam representasi nasionalisme melalui tokoh dalam film Tanah
Surga Katanya karya Herwin Novianto?
II. PEMBAHASAN
Pada uraian di atas diungkapkan bahwa melalui karya sastra film penonton
atau penikmat sastra dapat memperoleh nilai-nilai nasionalisme berupa pemahaman
rasa cinta tanah air. Nasionalisme dalam arti luas adalah paham kebangsaan
yang meletakkan kesetiaan tertinggi individu terhadap bangsa dan tanah airnya
dengan meman dang bangsanya itu merupakan bagian dari bagian lain di dunia (Kusdiono
dalam Ilahi, 2012: 73).
Dalam nasionalisme mempunyai
prinsip-orinsip. Menurut Heryanto (1996: 23) bahwa nasionalisme
dalam arti luas mengandung prinsip-prinsip yaitu: 1) Prinsip kebersamaan
menuntut setiap warga negara untuk menempatkan kepentingan bangsa dan negara di
atas kepentingan pribadi dan golongan, 2) Prinsip persatuan dan kesatuan
menuntut setiap warga negara harus mampu mengesampingkan pribadi atau golongan
yang dapat menimbulkan perpecahan dan anarkis (merusak), untuk menegakkan
prinsip persatuan dan kesatuan setiap warga negara harus mampu mengedepankan
sikap: kesetiakawan sosial, peduli tehadap sesama, solidarias dan berkeadilan
sosial, 3) Prinsip demokrasi memandang: bahwa setiap warga negara mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, karena hakikanya kebangsaan adalah
adanya tekad unuk hidup bersama mengutamakan kepentingan bangsa dan negara yang
tumbuh dan berkembang dari bawah untuk bersedia hidup sebagai bangsa yang
bebas, merdeka, berdaulat, adil dan makmur.
Lebih lanjut Sujana (dalam Ilahi, 2012: 2) memandang
nasionalisme merupakan faham dan semangat kecintaan serta loyalitas suatu
masyarakat, bangsa, dan negara terhadap masyarakat, bangsa, dan negaranya
sendiri. Dengan kata lain, nasionalisme merupakan kebanggaan serta loyalitas
suatu masyarakat dengan sejarah penderitaan yang sama karena menjadi bagian
dari suatu bangsa.
Secara etimologi, nasionalisme berasal
dari kata “nasional” dan “isme” yaitu paham kebangsaan yang
mengandung makna: kesadaran dan semangat cinta tanah air,
memiliki kebanggaan sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan
bangsa, memiliki rasa solidaritas terhadap musibah dan
kekurangberuntungan saudara setanah air, sebangsa dan senegara,
persatuan dan kesatuan (Heryanto, 1996: 4-5). Pada prinsipnya
nasionalisme adalah pandangan atau paham kecintaan manusia
Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada
nilai-nilai Pancasila (Pigay, 2000: 33).
Dari uraian pendapat para ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa nasionalisme merupakan paham atau ajaran untuk
mencintai bangsa dan negara sendiri dan secara bersama-sama mencapai, mempertahankan,
dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa yang
disebut semangat kebangsaan.
Cinta tanah air dapat ditimbulkan oleh sebuah rasa
nasionalisme yang hadir dalam diri sekelompok orang terhadap bangsanya. Hal ini
diperkuat dengan pendapat Ritter (dalam Abdullah, 1994: 77) Nasionalisme pada mulanya
terkait dengan rasa cinta sekelompok orang pada bangsa, bahasa dan daerah asal
usul semula.
Untuk menganalisis film Tanah Surga
Katanya ini digunakan pendekatan sosiologi sastra. Adapun pendekatan
sosiologi sastra adalah telaah yang subjektif dan ilmiah tentang diri seseorang
dalam masyarakat, telaah tentang lembaga, dan proses sosial. (Damono, 2003:
10). Ini berarti rasa nasionalisme itu ada dari pengalaman diri seseorang yang
berupa rasa cinta terhadap tanah air. Adapun diri seseorang yang mengalami rasa
nasionalisme dimaksudkan adalah tokoh dalam film Tanah Surga Katanya.
Kakek Hasyim merupakan tokoh utama
sebagai bekas pejuang sukarelawan Konfrontasi perbatasan
ketika masa perang Indonesia-Malaysia tahun 1965 yang memiliki
pendirian kuat, cinta mati kepada bangsa Indonesia.
Haris merupakan anak Kakek Hasyim, Haris
seorang duda yang memutuskan untuk menikahi wanita Malaysia untuk mempermudahnya
menetap di Malaysia. Haris bermaksud mengajak ayah dan kedua anaknya ikut
pindah ke Malaysia, walaupun di tawari berbagai fasilitas yang tidak bisa
didapatkan di daerahnya namun tetap ditolak oleh Hasyim karena bagi dirinya
kesetiaan pada bangsa adalah harga mati.
Salman dan Salina merupakan cucu Kakek Hasyim, Salman seorang
siswa kelas 4 dan Salina kelas 3 mereka merupakan siswa tercerdas di
sekolahnya, polos, memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, sangat
menyayangi kakeknya, memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.
Sebagai seorang sukarelawan bekas pejuang konfrontasi
perbatasan, Kakek Hasyim menanamkan rasa nasionalismenya kepada Salman dalam
melawan para pasukan gurka yang datang dari inggris untuk membantu Malaysia dalam
melawan para pejuang Indonesia dari suku Sasak di Kalimantan Barat. Seperti
kutipan adegan percakapan di bawah ini:
Adegan 1
Hasyim:
“ketika Kakek berada diperbatasan, tiba-tiba dari sana muncullah pasukan gurka
yang datang dari Inggris membela Malaysia, nah Kakek dan sukarelawan lainnya
menyelinaplah pulang susup sasap sembunyi-sembunyi. Para sukarelawan bertempur
diperbatasan tartartar tartartartartartaratar!! pasukan gurka tu lari
tunggang-langgang lintang pulang balik kampung.”
Salman:
“oh, pasukan Inggris te, mukanya seram-seram ya Kek ?”
Hasyim:”
Salman, pasukan gurka itu orang dari Nepal atau India, yang mukanya hitam dan
kumisnya tebal.”
(Novianto, 2012)
Kutipan di atas menunjukkan adanya rasa nasionalisme Hasyim
yang bekas sukarelawan itu tak pernah surut jiwa nasionalismenya. Hasyim
berusaha menularkan jiwa nasionalismenya itu kepada cucunya melalui
cerita-cerita heroik di era Konfrontasi. Namun, jiwa nasionalisme Hasyim
ditentang oleh kenyataan. Anaknya, Haris lebih memilih bekerja dan menetap di
Malaysia.
Komentar Haris cukup menggelitik. Ketika bapaknya,
Hasyim, menyatakan Indonesia lebih makmur dari Malaysia, Haris membantah,
“Jakarta yang makmur. Bukan di sini (pelosok Kalimantan).”
Kehidupan yang ditawarkan di Malaysia yang jauh lebih
baik mengakibatkan orang-orang di perbatasan rela melepas status WNI-nya.
Namun, sesungguhnya masalah itu dapat ditanggulangi jika pemerintah Indonesia
memberikan perhatian secara khusus untuk daerah perbatasan. Fenomena ini dapat
dilihat pada adegan Haris membujuk Hasyim untuk pindah ke Malaysia.
Adegan 2
Haris
: Malaysia tu negeri yang makmur, Yah.
Hasyim
: Negara kita lebih makmur, Haris.
Haris
: Jakarta yang makmur, bukan di sini. Kita ni di pelosok Kalimantan.
Siapa yang peduli?
Hasyim
: Haris, mengatur negeri ini tidaklah mudah. Tidak semudah membalikkan
telapak tangan. Tahu kau?
Haris
: Tapi apa yang Ayah harapkan dari pemerintah? Mereka tidak pernah
memberikan apa-apa untuk Ayah yang pernah berjuang di perbatasan.
Hasyim
: Aku mengabdi bukan untuk pemerintah. Tapi untuk negeri ini, bangsaku sendiri.
Haris
: Sekali lagi, Yah. Aku cuma ingin menyejahterakan ayah, membahagiakan
anak-anak. Dan aku…… aku sudah menikah dengan perempuan Malaysia, Yah.
Hasyim
: Apa maksudmu, hah?!
Haris
: Yah, supaya segala sesuatunya lebih mudah, saya harus menjadi warga
negara sana, Yah. Yah, di sana ayah akan mendapatkan perawatan kesehatan yang
lebih baik, anak-anak bisa bersekolah lebih tinggi, dan kita bisa tinggal di
tempat yang lebih layak. Tak macam di sini, Yah!
(Novianto, 2012).
Pada kutipan di atas nampak jelas
bahwa, kebijakan sentralisasi politik dan pembangunan yang pernah diterapkan
oleh pemerintahan Orde Baru dahulu memang memunculkan resistensi dari
daerah-daerah. Sentralisasi pembangunan-pembangunan baik itu infrastruktur,
pendidikan, dan sebagainya di pulau Jawa, khususnya di kota-kota besar seperti
Jakarta, menimbulkan kesenjangan yang sangat timpang dengan daerah-daerah
non-Jawa, terutama di daerah-daerah perbatasan. Walaupun pemerintahan Orde Baru
sudah berakhir dan digantikan dengan pemerintahan era reformasi yang salah satu
tuntutannya adalah kebijakan desentralisasi yang telah diwujudkan dalam bentuk
otonomi daerah, namun masalah kesenjangan di daerah-daerah terpencil belum juga
mendapatkan perhatian dari pemerintahan pusat dan daerah seperti dalam film ini.
Padahal masalah pendidikan dan kesehatan secara terang-terangan sudah diatur
dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Sementara itu, pengasingan terjadi pada lainnya, yaitu
bendera merah putih dan mata uang rupiah. Saat Bu Astuti menyuruh anak-anak
untuk menunjukkan tugas membuat gambar bendera merah putih yang didapat olehnya
adalah gambar-gambar berwarna merah dan putih yang bentuk dan komposisinya
bukan berupa bendera Merah-Putih Indonesia. Ada yang berbentuk segitiga,
layang-layang, garis belang-belang, dan lain sebagainya. Hanya Salina yang
menggambar dengan benar. Itu pun ia ketahui dari kakeknya yang mantan pejuang
perbatasan.
Tidak hanya sampai di situ, di film ini terdapat
adegan lain yang lebih ironis, yaitu ketika pedagang Indonesia yang berdagang
di Malaysia memakai bendera merah-putih sebagai kain pembungkus dagangannya.
Dari sini dapat dilihat bahwa lambang negara yang satu ini tidak pernah dikenal
oleh orang Indonesia sendiri.
Adegan 3
Salman
: Pak!
Pedagang
: Apa?
Salman
: Itu merah putih.
Pedagang
: Ku tahu. Ini warnanya merah, ini warna putih, ini kuning, ini hijau,
ini warna cokelat.
Salman
: Merah putih itu bendera Indonesia, Pak.
Pedagang
: Ini kain kan kain pembungkus dagangan aku.
Salman
: Ini bendera pusaka.
Pedagang
: (sambil menunjuk sebuah Mandau milikny) Ini Mandau pusaka
kakek aku. Pergi no!
(Novianto,
2012).
Pada kutipan ketiga di atas, rasa nasionalisme Salman
akan kecintaannya terhadap bangsa Indonesia sangat tinggi. Salman memberanikan
diri untuk menegur pedagang Malaysia yang telah meremehkan bendera Indonesia
untuk digunakan sebagai dasaran tempat berjualan.
Terkait dengan judul “Tanah Surga
Katanya”, dalam film ini dikisahkan suatu hari ada pejabat provinsi datang ke
sekolah Salman. Murid-murid menyambutnya dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya
dan tarian khas Kalimantan Barat. Adapun sajian lain yang ditampilkan untuk
para pejabat adalah deklamasi puisi karangan Salman oleh dirinya sendiri. Puisi
itu merupakan puisi satir dengan judul Tanah Surga gubahan dari lirik lagu
Kolam Susu yang sering didengar dan dinyanyikan anak-anak di dusun itu. Berikut
lirik puisi Tanah Surga yang dibawakan oleh Salman.
Tanah Surga
Bukan lautan hanya kolam susu,
katanya...
tapi kata kakekku, hanya orang-orang
kaya yang bisa minum susu
Kayu dan jala cukup untuk
menghidupimu, katanya...
tapi kata kakekku, ikan-ikan kita
dicuri oleh banyak negara
Tiada badai tiada topan kau temui,
katanya ...
tapi kenapa ayahku tertiup
angin ke Malaysia
Ikan dan udang menghampiri dirimu,
katanya...
tapi kata kakek, awas! Ada udang di
balik batu!
Orang bilang tanah kita tanah surga,
tongkat dan batu jadi tanaman, katanya...
tapi kata dokter Intel belum semua
rakyatnya sejahtera,
banyak pejabat yang menjual kayu dan
batu untuk membangun surganya sendiri
Di akhir cerita, kakek Salman,
Hasyim yang merupakan veteran pejuang perbatasan meninggal karena sakit jantung
yang dideritanya. Selama ini, ia tidak mengobati penyakitnya. Alasan biaya
menjadi alasan klasik dan lumrah bagi veteran apalgi yang tinggal di daerah
perbatasan. Jangankan untuk dirawat di rumah sakit, membeli obat-obatannya pun
ia tak mampu. Biaya perjalanan menggunakan sampan ke kota pulang pergi sudah
menghabiskan 400 ringgit. Uang sebanyak itu memang tidak mustahil diperoleh, namun
alangkah lebih berartinya bila uang sebanyak itu dipakai untuk keperluan lain
daripada dihabiskan hanya untuk biaya perjalanan mengobati penyakitnya. Ia
berpikir, kebutuhan cucu-cucunya jauh lebih penting daripada pengobatan
penyakitnya itu.
Adegan 4
Hasyim : Salman…
Salman : Iya, Kek…
Hasyim : Indonesia tanah
surga. Apa pun yang terjadi pada dirimu, jangan sampai kehilangan cintamu pada
negeri ini. Genggam erat cita-citamu, katakan kepada dunia dengan bangga “kami
bangsa Indonesia….” Laa illaaha illallaah…..
Salman : Kakek….!!
(Novianto, 2012).
Dari kutipan
di atas Sebelum meninggal, Hasyim berpesan kepada cucunya, Salman, agar tetap
mencintai bangsanya. Sementara itu, di lain tempat, Haris
sedang ber-euforia bersama warga Malaysia atas kemenangan Malaysia pada
pertandingan sepakbola Malaysia melawan Indonesia. Dengan bangganya ia
mengibarkan spanduk Malaysia. Dengan sepenuh hati ia mendukung Malaysia untuk
menjadi jawaranya. Hilangnya rasa memiliki Indonesia, bergeseranya identitas
diri menjadi orang Malaysia, telah terpatri dalam diri Haris.
Demikian
digambarkan adanya perbedaan ideologi dari generasi satu ke generasi
berikutnya, yaitu generasi nasionalisme Hasyim dengan generasi matrealistis
Haris. Proses sosial yang terjadi dalam masyarakat perbatasan di mana mereka
lebih sering berinteraksi dengan bangsa lain, ditambah dengan tidak adanya
sosialisasi akan makna dan nilai nasionalisme mengakibatkan hilangnya rasa
memiliki dan rasa cinta tanah air masyarakat tersebut.
Fenomena-fenomena
yang digambarkan di atas merefleksikan bagaimana sebuah masyarakat membentuk
pola dan mengorganisasikan kehidupan sosial. Identitas sosial mereka mengalami
pergeseran, yang mulanya mengaku orang Indonesia kemudian setelah mereka merasa
tidak mendapat perhatian oleh pemerintah Indonesia dan merasa lebih
difasilitasi oleh negara Malaysia, mereka pun berusaha untuk menjadi warga
negara Malaysia. Salah satu upaya yang mereka lakukan adalah menikah dengan
orang Malaysia dan bertempat tinggal di sana. Entah ada berapa puluh atau
bahkan ratus orang yang telah mengalami pergeseran identitas itu, berpindah
kewarganegaran dan domisili, semuanya tidak pernah tercatat dalam administrasi
pemerintahan Indonesia. Nasionalisme warga negara Indonesia di perbatasan
seolah tergadai karena tuntutan ekonomi. Tidak ada yang mensosialisasikan
nasionalisme, sementara kebutuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terus
meningkat. Pemerintah Indonesia juga tidak pernah melakukan usaha prefentif
maupun represif untuk para WNI yang berpindah kewarganegaraan dan domisili.
Film “Tanah
Surga... Katanya” hanyalah contoh kecil film yang kental dengan teori
sosiologi. Hasyim yang berusaha tetap mempertahankan nasionalismenya dalam
gencarnya perubahan pola pikir dan hidup masyarakat daerah perbatasan untuk
lebih memilih Malaysia sebagai tempat berlabuh, ia tularkan kepada cucunya,
Salman. Nasionalisme itu ternyata dapat diterima dengan baik olehnya, meski
ayahnya telah berpindah kewarganegaraan dan domisili dengan kehidupan yang
lebih layak. Ia bertahan dengan nasionalisme yang sarat keterbatasan.
Seandainya jika kita yang mengalami
kenyataan seperti di atas, apakah kita akan tetap mempertahankan nasionalisme
seperti Hasyim? Atau memilih jalan realistis mendapat keuntungan materi yang
lebih banyak dengan mempertaruhkan nasionalisme kita seperti Haris.
III. SIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa Representasi nasionalisme dalam film “Tanah Surga Katanya”
kebanyakan komunikasi yang dilakukan berupa ungkapan-ungkapan jiwa tokoh.
Nasionalisme hanya dihubungkan dengan sejarah, lagu kebangsaan Indonesia Raya,
Garuda Pancasila, serta kebudayaan. Representasi Film “Tanah Surga Katanya”
menggambarkan relevan dengan realitas kehidupan yang terjadi di daerah
perbatasan. Secara denotasi dalam film “Tanah Surga Katanya” adalah
keadaan dimana masyarakat daerah perbatasan tetap berjuang mencintai negerinya
meskipun keterbelakangan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan
secara konotasi dalam film “Tanah Surga Katanya” ditemukan bahwa
pemahaman nasionalisme masih diartikan secara dangkal. Nasionalisme masih
terbatas pada bendera Merah Putih, lagu kebangsaan, Garuda Pancasila. Ada hal
yang terpenting merealisasikan kenasionalismean itu dalam kehidupan kita di
kehidupan nyata. Bangsa ini lebih membutuhkan manusia-manusia yang bisa
memperjuangkan harga diri bangsa ini dengan sesuatu yang lebih bermakna.
Nasionalisme tidak hanya simbol. Nasionalisme adalah nyata dengan sikap kita.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,
Taufik.. (1994). Nasionalisme Suatu Bangsa, Bandung, Pemuda dan Perubahan
Sosial. Jakarta: LP3G.
Damono,
Sapardi Djoko. 2003. Sosiologi Sastra. Semarang: Magister Ilmu Susastra
Undip.
Heryanto,
Ariel. 1996. Nasionalisme Refleksi Kritis Kaum Ilmuwan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Ilahi,
Muhammad Takdir. 2012. Nasionalisme dalam Bingkai Pluralitas Bangsa:
Paradigma Pembangunan dan Kemandirian Bangsa. Ar-Ruzz Media. Yogyakarta.
Novianto,
Herwin. 2012. Film Tanah Surga Katanya. Jakarta: PT.Demigisela
Cita Sinema & PT. Gatot Brajamusti Films
Pigay,
Decki Natalis. (2000). Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik Politik di
Papua. Penerbit PT. Sinar Harapan. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar