Kritik Ekspresif Novel Saman Karya
Ayu Utami
Oleh:
Muhammad Rosyidi
Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Pendidikan
Bahasa dan Sastra, IKIP PGRI Semarang
Dalam Kritik
ekspresif mempunyai titik tekan yang berpangkal pada latar belakang kehidupan
pengarang, kesadaran dan wawasan budayanya, proses kreatif dan responnya
terhadap problem dasar kehidupan manuasia.
Tulisan Ayu banyak
mengenai kehidupan sehari-hari yang sederhana, tetapi menekankan aspek keadilan
dan hak-hak sipil. Seperti yang tercermin dalam novel Saman. Novel Saman dikemas
sangat serius tapi santai, mengupas tentang bagaimana penindasan orang yang tinggal
di prabubulih. Dalam hal inilah tokoh Athanasius Wisanggeni yang tak lain
adalah Saman muncul sebagai orang yang membela hak-hak orang yang tertindas.
Saman sendiri adalah orang yang menggerakan mata masyarakat akan perlunya sebuah
keadilan yang harus ditegakan. Kutipan :
Siapapun
yang memulai, merekalah yang tetap dipersalahkan dalam hukum. Status mereka
kini buron. Orang-orang yang membakar Upi, menggagahi istri Anson, mencabuti
karet-karet muda, menjadi tidak relevan untuk dibicarakan hakim. Mereka malah
tidak dipersalahkan. (hal 110)
Novel Saman karya Ayu Utami dalam
menceritakannya sangat menarik perhatian. Novel Saman memberikan warna baru
dalam dunia sastra. Penceritaan Novel Saman terangkai sempurna. Ayu Utami
sebagai pengarang menceritakan kehidupan disekelilingnya, dan dituangkan pada
Novel Saman. Novel Saman karya Ayu Utami bercerita
mengenai perjuangan seorang pemuda bernama Saman, yang dalam perjalanan
kariernya sebagai seorang pastor harus menyaksikan penderitaan penduduk Desa
Lubuh Rantau yang ditindas oleh negara melalui aparat militernya. Bagi Ayu Utami perjuangan untuk meraih suatu hal adalah
sangat penting dilakukan untuk mencapai kesuksesan atau keberhasilan, didalam
Novel Saman perjuangan dilakukan untuk memperebutkan harga diri yang tertindas.
Saman akhirnya menanggalkan “jubah kepastoran”nya itu, dan menjadi
aktivis buron. Terdapat unsur keputus asaan dan kemudian memilih hal yang
merusak moral dengan mengembangkan hasrat sexnya kepada orang lain. Saman
sebagai seorang aktivis, mengembangkan hubungan seksual dengan sejumlah
perempuan. Keempat tokoh perempuan tersebut adalah Shakuntala, Laila, Cok, dan
Yasmin. Kutipan :
Namaku
Shakuntala. Ayah dan kakak perempuanku menyebutku sundal.
Sebab aku telah tidur dengan beberapa lelaki dan beberapa perempuan. Meski tidak menarik bayaran. Kakak dan ayahku tidak menghormatiku. Aku tidak menghormati mereka.
Sebab bagiku hidup adalah menari dan menari pertama-tama adalah tubuh. Seperrti Tuhan baru meniupkan nafas pada hari keempat puluh setelah sel telur dan sperma menjadi gumpalan dalam rahim, maka ruh berhutang pada tubuh.
Sebab aku telah tidur dengan beberapa lelaki dan beberapa perempuan. Meski tidak menarik bayaran. Kakak dan ayahku tidak menghormatiku. Aku tidak menghormati mereka.
Sebab bagiku hidup adalah menari dan menari pertama-tama adalah tubuh. Seperrti Tuhan baru meniupkan nafas pada hari keempat puluh setelah sel telur dan sperma menjadi gumpalan dalam rahim, maka ruh berhutang pada tubuh.
Tubuhku
menari. Sebab menari adalah eksplorasi yang tak habis-habis dengan kulit dan
tulang-tulangku, yang dengannya aku rasakan perih, ngilu, gigil, juga nyaman.
Dan kelak ajal. Tubuhku menari. Ia menuruti bukan nafsu melainkan gairah. Yang
sublim. Libidinal. Labirin.( hal.115-116)
Dalam novel saman, sangat kental
dengan sex. Bagi Ayu Utami sex merupakan hal yang perlu atau hal yang
dibutuhkan oleh seseorang, namun tidak dengan sex bebas atau hubungan
terlarang. Ayu Utami secara langsung mengungkapkan cinta terlarang yang
dijalani Laila dan Sihar. Laila jatuh cinta pada seorang yang sudah beristri.
Laila sangat mencintai Sihar dan ingin berhubungan badan dengan Sihar, walaupun
Sihar sudah beristri. Dan dengan menggebu-gebunya, serasa laila ingin sekali
bercinta dengan sihar. Kutipan:
Lalu cinta
menjadi sesuatu yang salah. Karena hubungan tidak tercakup kedalam konsep yang
dinamakan pernikahan. Ia sering merasa berdosa pada istrinya Semakin lama, itu
seperti semakin menghantuinya. (hal 26)
Dan kita di
New York,. Beribu-ribu mil dari Jakarta. Tak ada orang tua, tak ada istri. Taka
da dosa Tapi kita bisa kawin lalu bercerai. Taka da yang perlu ditangisi.
Bukankah kita saling mencintai. (hal 30)
Meskipun Ayu Utami selalu
mengungkapkan tentang berhubungan badan atau sex bebas dalam novel ini, tetapi
Ayu juga tidak melupakan adat ketimuran kita. Menurut Ayu Utami sex bebas adalah
suatu hal yang merusal moral, dan tidak perlu dilakukan. Hal ini dikarenakan
oleh pengaruh dari budaya barat atau luar yang menghalalkan berbagai macam hal
yang belum tentu baik untuk moral selanjutnya. Ayu Utami tidak lupa membubuhi ceritanya dengan adat ketimuran.
Yang mengajarkan kita untuk ingat bahwa kita berada dalam budaya timur
yang masih terikat dengan norma-norma atau aturan-aturan. Kutipan :
Di tanah ini
orang-orang berkisah tentang negerimu. Dan negeri kami, orang-orangmu dan
orang-orang kami. Kami orang timur yang luhur. Kalian Barat yang bejat. Kaaum
wanitanya memakai bikini di jalan raya dan tidak menghormati keperawanaan,
sementara anak-anak sekolahnya, lelaki dan perempuan hidupbersama tanpa
menikah. Di negeri ini sex adalah milik orang dewasa lewat penikahan. (hal 135)
Penulisan Novel
Saman ini mengajak umat Katolik untuk kritis terhadap hidup menggereja, dengan
menyontohkan dirinya sendiri yang memilih untuk tidak menikah serta sorotannya
terhadap penindasan gereja terhadap perempuan secara fungsional bahwa fenomena
masyarakat tersebut merupakan sebuah kenyataan sosial, sedangkan kenyataan
sosial adalah bagian tidak terpisahkan dari bahan kajian kesusastraan. Kutipan
:
Dia
adalah satu di antara tiga lelaki yang berada dalam cahaya yang masuk dari tiga
jendela di atas altar. Terang yang lain menerobos lewat fragmen kaca patri yang
terjajar sepanjang dinding gereja. Bayangan-bayangan pun jatuh, memanjang ke
tujuh penjuru dari kaki pilar-pilar korintia. Juga dari kaki patung para
sanctus. Terang yang paling kecil datang dari lilin-lilin yang dinyalakan
koster sebelum misa pentahbisan dimulai. Tiga pemuda itu berjubah putih, lumen
de lumine, dan Bapa Uskup dengan mitra keemasan memanggil nama mereka satu
persatu. Juga namanya: Athanasius Wisanggeni.
Sakramen
presbiterat. Tiga lelaki tak berkasut itu lalu lungkup mencium ubin katedral
yang dingin. Mereka telah mengucapkan kaulnya. Pada mereka telah dikenakan
stola dan kasula. Sejak hari itu, orang-orang memanggil mereka pater. Dan
namanya menjadi Pater Wisanggeni, atau Romo Pater.
Sehabis
misa, ada pesta kecil yang akrab di balai pastoran untuk merayaan ketiga pastor
baru itu. Anak-anak muda anggota koor dan misdinar menyalami dengan kagum,
setiap kali seorang frater mentas menjadi pater, orang menyambut seperti
kalahiran: ada kegembiraan, ada keheranan, juga kekhawatiran. Bapak ibu tua
meletakkan harapan seperti kuk dan salib, namun pastor diosesan muda itu kini
merasa sebagai seorang prajurit dalam sebuah legion. Tugasnya akan ditentukan
oleh Bapa Uskup.
Ketika
tamu-tamu sudah menyalaminya, Wisanggeni mendekati seseorang di antara para
pastor senior yang hadir, seseorang bertubuh kecil dengan mata sempit yang
tatapannya dalam. Seseorang yang dia cari. Di rautnya terdapat kerut yang
menggurat kuat tapat di pangkal hidung, seperti gambar huruf U di antara
sepasang alis pertapa pada lukisan Hindu-Budha, tanda pada Begawan yang banyak
merenung atau menjauhkan diri dari yang karnal. Romo Daru, pastor agak tua yang
suaranya selalu didengar dalam rapat-rapat keuskupan. Namun, lebih dari itu
bagi Wis, Romo Daru yang banyak menghabiskan waktunya di persemadian Ordo
Karmel di lereng gunung Sindangreret dikenal karena kesanggupan khusus. Roh
Kudus memberinya satu dari tujuh karunia: yaitu mata untuk berhubungan dengan
dunia yang tak Nampak serta iman sebiji sawi untuk mengusir roh-rah jahat.
Wisanggeni menghampiri Romo Daru dengan hati-hati, tetapi lelaki tua itu
memberikan salam sebelum Wis sempat menyapa. Anak muda itu jadi agak
tersipu.(Saman, hal.40-41)
Dalam novel
Saman, Ayu Utami mengungkakpan atau memaparkan sebuah luapan pikiran, perasaan,
dan pengalaman empirik dalam menghadapi realitas sosial masyarakat yang
mengalami berbagai dimensi kebobrokan moralnya, salah satunya adalah sex bebas
dan hubungan yang terlarang. Dalam kehidupan nyata hal tersebut sangatlah tidak
pantas dilakukan, namun semua hal tersebut terjadi karena pengaruh dari luar.
Kependirian yang kurang kuat. Disatu sisi, Saman memenuhi kewajiban sebagai
pastor, di satu sisi pula ia harus membela penduduk untuk melawan kebiadaban
para investor dan pemilik modal, dan di sisi lain ia ingin menyalurkan hasrat
seksualnya yang tinggi walaupun dalam status yang tak jelas pula (antara pastor
dan aktivis). Serta, bagaimana pandangan sang pengarang terhadap bangsa
Indonesia di era Orde Baru yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa
yang diinginkannya, bahkan harus mengobarkan nyawa orang lain. Bagi pengarang
norma-norma ketimuran sedikit demi sedikit telah terlupakan dan merusak
perilaku seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar