Kamis, 11 Desember 2014

Kritik Ekspresif Novel Saman Karya Ayu Utami



Kritik Ekspresif Novel Saman Karya Ayu Utami
Oleh:
Muhammad Rosyidi
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, IKIP PGRI Semarang

Dalam Kritik ekspresif mempunyai titik tekan yang berpangkal pada latar belakang kehidupan pengarang, kesadaran dan wawasan budayanya, proses kreatif dan responnya terhadap problem dasar kehidupan manuasia.
Tulisan Ayu banyak mengenai kehidupan sehari-hari yang sederhana, tetapi menekankan aspek keadilan dan hak-hak sipil. Seperti yang tercermin dalam novel Saman. Novel Saman dikemas sangat serius tapi santai, mengupas tentang bagaimana penindasan orang yang tinggal di prabubulih. Dalam hal inilah tokoh Athanasius Wisanggeni yang tak lain adalah Saman muncul sebagai orang yang membela hak-hak orang yang tertindas. Saman sendiri adalah orang yang menggerakan mata masyarakat akan perlunya sebuah keadilan yang harus ditegakan. Kutipan :
Siapapun yang memulai, merekalah yang tetap dipersalahkan dalam hukum. Status mereka kini buron. Orang-orang yang membakar Upi, menggagahi istri Anson, mencabuti karet-karet muda, menjadi tidak relevan untuk dibicarakan hakim. Mereka malah tidak dipersalahkan. (hal 110)
Novel Saman karya Ayu Utami dalam menceritakannya sangat menarik perhatian. Novel Saman memberikan warna baru dalam dunia sastra. Penceritaan Novel Saman terangkai sempurna. Ayu Utami sebagai pengarang menceritakan kehidupan disekelilingnya, dan dituangkan pada Novel Saman. Novel Saman karya Ayu Utami bercerita mengenai perjuangan seorang pemuda bernama Saman, yang dalam perjalanan kariernya sebagai seorang pastor harus menyaksikan penderitaan penduduk Desa Lubuh Rantau yang ditindas oleh negara melalui aparat militernya. Bagi Ayu Utami perjuangan untuk meraih suatu hal adalah sangat penting dilakukan untuk mencapai kesuksesan atau keberhasilan, didalam Novel Saman perjuangan dilakukan untuk memperebutkan harga diri yang tertindas. Saman akhirnya menanggalkan “jubah kepastoran”nya itu, dan menjadi aktivis buron. Terdapat unsur keputus asaan dan kemudian memilih hal yang merusak moral dengan mengembangkan hasrat sexnya kepada orang lain. Saman sebagai seorang aktivis, mengembangkan hubungan seksual dengan sejumlah perempuan. Keempat tokoh perempuan tersebut adalah Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin. Kutipan :
Namaku Shakuntala. Ayah dan kakak perempuanku menyebutku sundal.
Sebab aku telah tidur dengan beberapa lelaki dan beberapa perempuan. Meski tidak menarik bayaran. Kakak dan ayahku tidak menghormatiku. Aku tidak menghormati mereka.
Sebab bagiku hidup adalah menari dan menari pertama-tama adalah tubuh. Seperrti Tuhan baru meniupkan nafas pada hari keempat puluh setelah sel telur dan sperma menjadi gumpalan dalam rahim, maka ruh berhutang pada tubuh.
Tubuhku menari. Sebab menari adalah eksplorasi yang tak habis-habis dengan kulit dan tulang-tulangku, yang dengannya aku rasakan perih, ngilu, gigil, juga nyaman. Dan kelak ajal. Tubuhku menari. Ia menuruti bukan nafsu melainkan gairah. Yang sublim. Libidinal. Labirin.( hal.115-116)
Dalam novel saman, sangat kental dengan sex. Bagi Ayu Utami sex merupakan hal yang perlu atau hal yang dibutuhkan oleh seseorang, namun tidak dengan sex bebas atau hubungan terlarang. Ayu Utami secara langsung mengungkapkan cinta terlarang yang dijalani Laila dan Sihar. Laila jatuh cinta pada seorang yang sudah beristri. Laila sangat mencintai Sihar dan ingin berhubungan badan dengan Sihar, walaupun Sihar sudah beristri. Dan dengan menggebu-gebunya, serasa laila ingin sekali bercinta dengan sihar. Kutipan:
Lalu cinta menjadi sesuatu yang salah. Karena hubungan tidak tercakup kedalam konsep yang dinamakan pernikahan. Ia sering merasa berdosa pada istrinya Semakin lama, itu seperti semakin menghantuinya. (hal 26)
Dan kita di New York,. Beribu-ribu mil dari Jakarta. Tak ada orang tua, tak ada istri. Taka da dosa Tapi kita bisa kawin lalu bercerai. Taka da yang perlu ditangisi. Bukankah kita saling mencintai.  (hal 30)
Meskipun Ayu Utami selalu mengungkapkan tentang berhubungan badan atau sex bebas dalam novel ini, tetapi Ayu juga tidak melupakan adat ketimuran kita. Menurut Ayu Utami sex bebas adalah suatu hal yang merusal moral, dan tidak perlu dilakukan. Hal ini dikarenakan oleh pengaruh dari budaya barat atau luar yang menghalalkan berbagai macam hal yang belum tentu baik untuk moral selanjutnya. Ayu Utami tidak lupa  membubuhi ceritanya dengan adat ketimuran. Yang mengajarkan kita untuk ingat bahwa kita berada dalam budaya timur yang masih terikat dengan norma-norma atau aturan-aturan. Kutipan :
Di tanah ini orang-orang berkisah tentang negerimu. Dan negeri kami, orang-orangmu dan orang-orang kami. Kami orang timur yang luhur. Kalian Barat yang bejat. Kaaum wanitanya memakai bikini di jalan raya dan tidak menghormati keperawanaan, sementara anak-anak sekolahnya, lelaki dan perempuan hidupbersama tanpa menikah. Di negeri ini sex adalah milik orang dewasa lewat penikahan. (hal 135)
Penulisan Novel Saman ini mengajak umat Katolik untuk kritis terhadap hidup menggereja, dengan menyontohkan dirinya sendiri yang memilih untuk tidak menikah serta sorotannya terhadap penindasan gereja terhadap perempuan secara fungsional bahwa fenomena masyarakat tersebut merupakan sebuah kenyataan sosial, sedangkan kenyataan sosial adalah bagian tidak terpisahkan dari bahan kajian kesusastraan. Kutipan :
Dia adalah satu di antara tiga lelaki yang berada dalam cahaya yang masuk dari tiga jendela di atas altar. Terang yang lain menerobos lewat fragmen kaca patri yang terjajar sepanjang dinding gereja. Bayangan-bayangan pun jatuh, memanjang ke tujuh penjuru dari kaki pilar-pilar korintia. Juga dari kaki patung para sanctus. Terang yang paling kecil datang dari lilin-lilin yang dinyalakan koster sebelum misa pentahbisan dimulai. Tiga pemuda itu berjubah putih, lumen de lumine, dan Bapa Uskup dengan mitra keemasan memanggil nama mereka satu persatu. Juga namanya: Athanasius Wisanggeni.
Sakramen presbiterat. Tiga lelaki tak berkasut itu lalu lungkup mencium ubin katedral yang dingin. Mereka telah mengucapkan kaulnya. Pada mereka telah dikenakan stola dan kasula. Sejak hari itu, orang-orang memanggil mereka pater. Dan namanya menjadi Pater Wisanggeni, atau Romo Pater.
Sehabis misa, ada pesta kecil yang akrab di balai pastoran untuk merayaan ketiga pastor baru itu. Anak-anak muda anggota koor dan misdinar menyalami dengan kagum, setiap kali seorang frater mentas menjadi pater, orang menyambut seperti kalahiran: ada kegembiraan, ada keheranan, juga kekhawatiran. Bapak ibu tua meletakkan harapan seperti kuk dan salib, namun pastor diosesan muda itu kini merasa sebagai seorang prajurit dalam sebuah legion. Tugasnya akan ditentukan oleh Bapa Uskup.
Ketika tamu-tamu sudah menyalaminya, Wisanggeni mendekati seseorang di antara para pastor senior yang hadir, seseorang bertubuh kecil dengan mata sempit yang tatapannya dalam. Seseorang yang dia cari. Di rautnya terdapat kerut yang menggurat kuat tapat di pangkal hidung, seperti gambar huruf U di antara sepasang alis pertapa pada lukisan Hindu-Budha, tanda pada Begawan yang banyak merenung atau menjauhkan diri dari yang karnal. Romo Daru, pastor agak tua yang suaranya selalu didengar dalam rapat-rapat keuskupan. Namun, lebih dari itu bagi Wis, Romo Daru yang banyak menghabiskan waktunya di persemadian Ordo Karmel di lereng gunung Sindangreret dikenal karena kesanggupan khusus. Roh Kudus memberinya satu dari tujuh karunia: yaitu mata untuk berhubungan dengan dunia yang tak Nampak serta iman sebiji sawi untuk mengusir roh-rah jahat. Wisanggeni menghampiri Romo Daru dengan hati-hati, tetapi lelaki tua itu memberikan salam sebelum Wis sempat menyapa. Anak muda itu jadi agak tersipu.(Saman, hal.40-41)
Dalam novel Saman, Ayu Utami mengungkakpan atau memaparkan sebuah luapan pikiran, perasaan, dan pengalaman empirik dalam menghadapi realitas sosial masyarakat yang mengalami berbagai dimensi kebobrokan moralnya, salah satunya adalah sex bebas dan hubungan yang terlarang. Dalam kehidupan nyata hal tersebut sangatlah tidak pantas dilakukan, namun semua hal tersebut terjadi karena pengaruh dari luar. Kependirian yang kurang kuat. Disatu sisi, Saman memenuhi kewajiban sebagai pastor, di satu sisi pula ia harus membela penduduk untuk melawan kebiadaban para investor dan pemilik modal, dan di sisi lain ia ingin menyalurkan hasrat seksualnya yang tinggi walaupun dalam status yang tak jelas pula (antara pastor dan aktivis). Serta, bagaimana pandangan sang pengarang terhadap bangsa Indonesia di era Orde Baru yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan harus mengobarkan nyawa orang lain. Bagi pengarang norma-norma ketimuran sedikit demi sedikit telah terlupakan dan merusak perilaku seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar